Bayu Amatory, Direktur PT. Indonesian Research Consultant (IRC),MAKASSAR, CYBERPENA.ID– Anggota Dewan incumbent yang terpilih pada Pemilu 2024 dinilai memiliki peluang sekaligus tantangan besar jika ingin kembali menduduki kursi legislatif pada periode berikutnya. Kepercayaan publik yang telah diberikan harus dijaga dan dibuktikan melalui kinerja nyata selama masa jabatan.
Direktur PT. Indonesian Research Consultant (IRC), Bayu Amatory, menegaskan bahwa status sebagai incumbent bukan jaminan kemenangan, melainkan tanggung jawab untuk menunjukkan hasil kerja yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Incumbent memiliki keunggulan dari sisi akses dan pengalaman, tetapi publik juga menaruh ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Jika tidak ada bukti kinerja yang nyata, justru posisi incumbent bisa menjadi titik lemah,” ujar Bayu, Jumat (25/1/2026).
Menurut Bayu, strategi utama yang harus dilakukan anggota dewan terpilih adalah menjaga konsistensi kehadiran di daerah pemilihan (dapil). Ia menilai, kunjungan rutin, dialog terbuka dengan warga, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial menjadi cara efektif untuk memastikan aspirasi masyarakat terserap dan diperjuangkan di lembaga legislatif.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun rekam jejak kebijakan yang jelas dan terukur. Anggota dewan diharapkan tidak hanya aktif dalam rapat atau pembahasan regulasi, tetapi juga mampu mengomunikasikan kepada publik hasil konkret dari kebijakan yang telah diperjuangkan.
“Pemilih ingin tahu apa yang sudah diperbuat wakilnya. Karena itu, setiap program, perda, atau penganggaran yang berdampak pada masyarakat perlu disampaikan secara transparan dan mudah dipahami,” jelasnya.
Dari sisi politik elektoral, Bayu mendorong incumbent untuk memperkuat jaringan relawan dan simpatisan sejak awal masa jabatan. Menurutnya, basis dukungan yang dibangun secara berkelanjutan akan menjadi modal penting saat memasuki tahun politik.
Pemanfaatan media sosial dan platform digital juga dinilai semakin krusial. Bayu menyebut, ruang digital dapat digunakan sebagai sarana pelaporan kinerja, edukasi politik, sekaligus ruang interaksi langsung antara anggota dewan dan konstituen.
“Bukan sekadar pencitraan, tetapi bagaimana media digital menjadi kanal komunikasi dua arah. Respons terhadap keluhan dan aspirasi warga akan membangun kesan bahwa wakil rakyat benar-benar hadir dan peduli,” katanya.
Lebih lanjut, Bayu menyoroti pentingnya menjaga integritas dan etika politik. Ia menilai, isu negatif, konflik kepentingan, atau ketidaksesuaian antara janji dan tindakan dapat dengan cepat merusak kepercayaan publik, terutama di era keterbukaan informasi.
Sebagai penutup, Bayu menegaskan bahwa kunci keberhasilan incumbent untuk kembali terpilih terletak pada keseimbangan antara kinerja legislasi, kedekatan sosial, dan komunikasi politik yang efektif.
“Anggota dewan yang mampu menunjukkan kerja nyata, menjaga hubungan dengan konstituen, serta konsisten dengan nilai-nilai integritas, akan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kepercayaan rakyat pada periode berikutnya,” tutup Bayu. (*)
Tidak ada komentar