Akibat Bencana, 225 Siswa Sekolah Rakyat di Aceh Dipulangkan

cyber pena
11 Des 2025 20:55
3 menit membaca

ACEH,CYBERPENA.ID — Kementerian Sosial RI memastikan proses pemulangan sementara siswa-siswi Sekolah Rakyat (SR) di sejumlah wilayah Aceh berjalan aman, tertib, dan sesuai prosedur menyusul kondisi darurat akibat banjir yang melanda sejak akhir November. Total 225 siswa dari tiga Sekolah Rakyat di Bireuen, Lhokseumawe, dan Pidie Jaya dipulangkan karena keterbatasan logistik, terputusnya akses, serta meningkatnya risiko keselamatan bagi anak-anak dan para pendidik.

Situasi Darurat di SRT 25 Bireuen

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 25 Bireuen, hujan deras berhari-hari membuat akses menuju sekolah hampir tidak bisa dilalui. Kepala Sekolah, Nidia Fitri, menjelaskan bahwa banyak orang tua yang diliputi kekhawatiran mencoba menjemput anak mereka, namun kondisi di luar sekolah justru semakin memburuk.
Banjir makin tinggi, listrik padam hingga lima hari, sementara anak-anak terus meminta pulang untuk berkumpul dengan keluarga mereka yang sedang berjuang di rumah masing-masing.

“Awalnya kami tahan karena banyak akses jalan yang putus dan sebagian orang tua justru berada di pengungsian,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).

Setelah tujuh hari, wali asuh yang biasanya tinggal di sekolah turut terdampak, guru kesulitan hadir karena kelangkaan BBM, dan harga bahan makanan melonjak tajam—membuat stok pangan tidak lagi mencukupi. Pihak sekolah pun mengajukan pemulangan kepada Pusdiklatbangprof melalui PPK, merujuk pada status darurat dari Bupati Bireuen.

Pemulangan dilakukan bertahap: siswa yang bisa dijemput orang tua dipulangkan dengan pengawalan, sementara yang orang tuanya sulit dihubungi diantar langsung oleh pihak sekolah.

“Yang rumahnya berada di area jembatan patah, kami seberangkan satu per satu hingga tiba di titik aman,” kata Nidia.

Meski jembatan terdekat rusak, bangunan SRT 25 tetap aman. Dinas Pendidikan meliburkan kegiatan belajar hingga 20 Desember.

Kondisi SRMP 33 Lhokseumawe

Di SRMP 33 Lhokseumawe, Kepala Sekolah Ayadi menyampaikan bahwa pemulangan siswa dilakukan karena vendor permakanan tidak lagi mampu menyediakan bahan makanan akibat kelangkaan pasokan dan melonjaknya harga.

“Bahannya langka dan mahal,” jelas Ayadi.

Meski listrik masih sering padam, siswa direncanakan kembali pada 11 Desember dan sekolah berkomitmen tetap melaksanakan ujian pada 15 Desember. Genset bantuan Kemensos masih tertahan di Bireuen karena jembatan yang putus.

Bangunan SRMP 33 dipastikan aman, meski 33 keluarga siswa, enam guru, dan satu tenaga kependidikan terdampak banjir.

SRT 26 Pidie Jaya Menghadapi Kondisi Terberat

Di SRT 26 Pidie Jaya, kondisi jauh lebih parah. Kepala Sekolah Dewi Juliana mengisahkan hujan sejak 21 November berujung banjir bandang pada 26 November. Beberapa orang tua datang menjemput anak, namun Dewi menahan karena rumah-rumah mereka justru berada dalam kondisi yang lebih terdampak.

Selama masa banjir, wali asuh tidak hadir karena rumah mereka juga terendam banjir bandang, sehingga guru mengambil alih peran wali asuh. Setelah sepekan, kondisi memburuk: listrik padam total, internet terputus, gas langka, dan harga bahan makanan melonjak drastis.

“Harga telur seratus ribu per papan dan itu pun tidak ada lagi. BBM mulai langka,” ujar Dewi.

Melalui koordinasi dengan Dinas Sosial dan PPK, sekolah memutuskan memulangkan siswa berdasarkan surat darurat dari Bupati Pidie Jaya. Beberapa siswa masih berada di pengungsian, dan guru melakukan kunjungan rumah untuk memastikan kondisi dan mendata dampak secara akurat.

Banyak siswa yang menangis dan ingin segera kembali ke keluarga di tengah situasi sulit.

Kemensos Lakukan Koordinasi Intensif

Kementerian Sosial terus melakukan koordinasi dengan Pusdiklatbangprof, Dinas Sosial di kabupaten/kota, pemerintah daerah, serta pihak sekolah untuk memastikan kebutuhan dasar siswa tetap terpenuhi selama masa pemulangan.

Pemulihan kegiatan belajar mengajar akan dilakukan kembali setelah kondisi membaik, akses transportasi aman, dan pasokan logistik kembali stabil.

Kemensos menegaskan bahwa keselamatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanganan dampak bencana ini. (rls)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    xjasa website murah
    xwebsite murah