Gubernur Sulbar Suhardi Duka Hadiri Ritual Sakral Massossor Manurung di Mamuju

cyber pena
27 Okt 2025 11:49
3 menit membaca

CYBERPENA.ID, SULBAR – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menghadiri ritual sakral Massossor Manurung, tradisi pembersihan keris pusaka Kerajaan Mamuju, yang digelar di pelataran Rumah Adat Mamuju, Sabtu (25/10/2025).

Upacara adat yang telah diwariskan turun-temurun ini menjadi simbol pelestarian nilai budaya, spiritualitas, serta persatuan masyarakat Mamuju di tengah arus modernisasi.

Dalam sambutannya, Gubernur Suhardi Duka menjelaskan bahwa Massossor Manurung tidak hanya bermakna pembersihan benda pusaka, tetapi juga refleksi moral dan spiritual bagi seluruh masyarakat.

“Massossor Manurung bukan sekadar membersihkan pusaka, tetapi juga membersihkan diri serta mengevaluasi perjalanan pembangunan dan kehidupan sosial. Karena itu, tradisi ini penting dilakukan secara berkala,” ujar Suhardi Duka.

Mantan Bupati Mamuju dua periode itu menegaskan pentingnya budaya sebagai penuntun jati diri dan identitas daerah, termasuk bahasa Mamuju yang menjadi simbol akar budaya masyarakat.

“Budaya adalah jati diri kita. Jika orang Mamuju tidak tahu bahasa Mamuju, berarti ia telah tercabut dari akar budayanya. Mari kita belajar dan bangga berbahasa Mamuju,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gubernur menilai tradisi budaya seperti Massossor Manurung dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang bernilai ekonomi tanpa menghilangkan makna sakralnya.

“Budaya tak hanya dijaga secara sakral, tetapi juga bisa dikembangkan seperti di Bali, di mana budaya menjadi daya tarik wisata. Tradisi ini bisa menjadi potensi ekonomi dan promosi identitas Mamuju,” jelasnya.

Menurutnya, keunikan keyakinan masyarakat bahwa pusaka Manurung ‘dilahirkan’, bukan dibuat, memiliki nilai mistik dan simbolik yang tinggi serta berpotensi menarik minat wisatawan.

“Jika dikemas dengan baik, ini bisa menjadi daya tarik budaya yang luar biasa,” imbuhnya.

Suhardi Duka juga menyampaikan apresiasi kepada Yang Mulia Raja Mamuju dan Lembaga Adat Kerajaan Mamuju yang konsisten menjaga warisan budaya serta menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Tidak ada pemimpin yang sukses sendiri. Semua harus berkolaborasi demi kesejahteraan rakyat dan kemajuan Sulbar,” tuturnya.

Sementara itu, Maradika Mamuju, Bau Akram Dai, menjelaskan bahwa ritual Sossor Manurung telah ada sejak tahun 1500 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Lasalaga. Tradisi ini dilaksanakan satu kali dalam dua tahun pada tahun ganjil.

“Pusaka Manurung telah menjadi simbol kekuatan dan keadilan di Tanah Mamuju. Tradisi ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan filosofi lokal Mamuju, ‘Sema manginung uai randanna to Mamuju, maka ia to Mamuju’, yang berarti siapa pun yang minum air di Tanah Mamuju memiliki tanggung jawab menjaga kedamaian dan membangun daerah.

Di kesempatan yang sama, Bupati Mamuju Sutinah Suhardi menyampaikan apresiasi kepada Gubernur atas perhatian dan dukungan terhadap pelestarian budaya daerah.

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur yang terus mendukung pelestarian budaya Kerajaan Mamuju. Semoga momen ini memperkuat solidaritas sosial dan kebanggaan terhadap identitas kita,” kata Sutinah.

Ia menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga nilai luhur budaya.

“Warisan budaya adalah aset tak ternilai. Melalui sinergi dengan lembaga adat, kita akan terus membangun Mamuju yang maju, berkarakter, dan berbudaya,” tutupnya. (rls/red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    xjasa website murah
    xwebsite murah