Foto : Peserta Forum Diskusi Produk Olahan Cokelat dan Kopi di Bali.Oleh : Leonard
OPINI – Perjalanan saya dan rekan-rekan dari Sulawesi Barat menuju Bali bukan sekadar wisata belajar. Kami datang untuk menimba ilmuโbukan tentang cara menanam, tetapi bagaimana mengelola, mengolah, dan memasarkan hasil bumi agar bernilai tinggi. Dalam dua hari penuh, saya berkeliling ke Tabanan, Gianyar, dan Bangli, menyusuri aroma kakao dan kopi yang menggugah, menyimak kisah perjuangan petani, sekaligus menyaksikan bagaimana pengetahuan, manajemen, dan digitalisasi mengubah wajah pertanian modern.
Di setiap langkah perjalanan, saya menemukan satu pesan kuat: petani yang cerdas bukan hanya yang pandai menanam, tapi yang mampu memahami rantai nilaiโdari kebun hingga pasar global. Itulah semangat yang saya bawa pulang dari forum pembelajaran ini: bahwa di balik setiap biji cokelat dan tetes kopi, ada ilmu yang panjang, ada etika, dan ada narasi keberlanjutan yang tidak kalah penting dari cita rasa itu sendiri.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ญ. ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ: ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐ก๐ถ๐น๐ฎ๐ถ ๐ง๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ผ๐ธ๐ฒ๐น๐ฎ๐ ๐๐๐ป๐ด๐น๐ฒ๐๐ผ๐น๐ฑ ๐๐ฎ๐น๐ถ
Kami tiba di Kabupaten Tabanan, Bali bagian barat, tempat berdirinya JungleGold Bali, sebuah perusahaan pengolah cokelat yang telah menembus pasar premium dunia. Dari luar, bangunannya sederhana. Namun begitu melangkah ke dalam, tampak jelas bagaimana filosofi dan sistem kerja mereka menanamkan nilai tambah di setiap tahap produksi.

Kunjungan dimulai dengan penyambutan hangat dari tim JungleGold dan kelompok tani binaan asal Jembrana. Mereka menjelaskan bagaimana konsep end-to-end supply chain menjadi dasar sistem mereka: dari kebun, fermentasi, pengeringan, hingga kemasan ekspor, semua dilakukan secara terintegrasi dengan prinsip keadilan untuk petani.
๐ท๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐
Seorang ketua kelompok tani dari Jembrana membuka sesi diskusi dengan kalimat sederhana namun bermakna dalam:
โ๐พ๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐, ๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐ ๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐.โ
Kalimat itu menampar kesadaran kami. Petani memang ahli di kebun, tapi belum tentu paham soal manajemen usaha: pencatatan keuangan, pengemasan, branding, dan legalitas. Banyak hasil panen yang berkualitas justru kehilangan nilai karena tidak dikelola secara profesional.
Dari pemaparan kelompok tani Jembrana, saya mencatat bahwa kesenjangan kapasitas antara kemampuan teknis dan kemampuan manajerial menjadi akar persoalan klasik petani di berbagai daerah, termasuk di Mamasa. Teknik budidaya yang baik tidak akan banyak berarti tanpa manajemen mutu dan pasar yang jelas.
Fermentasi dan pengeringan biji kakao misalnya, memiliki pengaruh langsung terhadap harga jual. Di JungleGold, mereka menerapkan standar sederhana tapi disiplin: suhu, waktu fermentasi, hingga kelembapan pengeringan diukur dan dicatat. Standarisasi ini membuat produk mereka bisa naik kelas dari kakao biasa menjadi bahan baku cokelat premium.
๐ช๐-๐ญ๐๐๐๐ ๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ฎ๐๐๐ : ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ฌ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐๐
Selanjutnya, Gusti, Co-Founder JungleGold, memberikan paparan inspiratif tentang perjalanan bisnis mereka. Ia menjelaskan bahwa legalitas bukan sekadar urusan administratif, melainkan pondasi kepercayaan.
โ๐๐๐๐๐ง๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐๐ก๐ข๐ ๐๐ก๐๐๐. ๐พ๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐โ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐.โ
JungleGold membangun model pembinaan hulu-hilir: mereka membeli biji kakao langsung dari petani binaan di berbagai wilayah IndonesiaโPapua, Sulawesi, NTT, hingga Sumatera. Setiap daerah memiliki karakter rasa yang unik, dan semua dikelola dengan sistem traceability yang ketat.
Saya belajar bahwa kekuatan mereka bukan hanya pada kualitas cokelat, tapi juga pada cerita di baliknya. Di pasar global, cerita tentang asal-usul dan proses etis sering kali lebih bernilai daripada harga itu sendiri. JungleGold menjadikan storytelling sebagai bagian dari strategi branding. Di setiap kemasan, ada kisah tentang petani, tanah, dan proses yang membentuk rasa khas cokelat Bali.
๐น๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฏ๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐
Menutup sesi di Tabanan, saya merenung bahwa tantangan terbesar bagi UMKM di Sulawesi Barat bukan sekadar pada produksi, tapi pada pembentukan nilai. Tanpa legalitas, manajemen usaha, dan branding yang kuat, produk sehebat apa pun akan sulit menembus pasar. JungleGold memberi contoh bahwa profesionalisme tidak harus mahalโyang penting adalah disiplin dan kejujuran dalam setiap tahap kerja.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฎ. ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฆ๐๐ธ๐๐บ๐ฎ ๐๐ผ๐ฝ๐ถ ๐จ๐ฏ๐๐ฑ: ๐๐ป๐ผ๐๐ฎ๐๐ถ, ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐น๐ถ๐๐ฎ๐, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ
Perjalanan hari pertama berlanjut ke Kabupaten Gianyar, tepatnya ke Suksma Kopi Ubud, sebuah rumah produksi dan kafe yang menjadi pelaku utama kopi Arabica Kintamani. Suasana Ubud yang tenang terasa kontras dengan semangat diskusi kami yang penuh antusias.
๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐
Narasumber dari Suksma menekankan pentingnya perizinan cepat dan lengkap sebagai syarat utama menembus pasar modern. Mereka berbagi kisah bagaimana proses legalitasโmulai dari NIB hingga sertifikat mutuโmembuka akses ke jaringan ritel dan eksportir.
Selain itu, inovasi produk menjadi fokus berikutnya. Mereka tak sekadar menjual kopi biji sangrai, tetapi juga berbagai varian olahan. Inovasi dikombinasikan dengan storytelling digitalโcerita tentang petani, rasa, dan filosofi disampaikan lewat media sosial, foto, dan video yang estetik.
๐ป๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐ ๐๐๐๐
Namun, Suksma juga jujur soal keterbatasan: produksi kecil sulit memenuhi permintaan besar. Tantangan ini umum dihadapi banyak produsen di daerah, termasuk Mamasa. Solusinya, kata mereka, adalah aggregatorโpengelompokan produsen agar volume tetap konsisten tanpa mengorbankan kualitas.
Pelajaran penting dari Suksma: legalitas membuka pasar, inovasi membuka peluang, dan kolaborasi menjaga keberlanjutan.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฏ. ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐ฐ๐ถ๐ฝ๐ถ ๐๐ฑ๐ฒ๐ฎ๐น๐ถ๐๐บ๐ฒ ๐๐ผ๐ฝ๐ถ ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐๐ฎ
Hari kedua membawa kami ke Kabupaten Bangli, di mana berdiri Akasa Kopi, sebuah usaha kopi spesialti dengan filosofi kuat: Single Origin 100% Arabica Kintamani. Bertemu dengan pendirinya, Agus Harditya, membuka wawasan baru tentang bagaimana idealisme dapat menjadi strategi bisnis.
๐บ๐๐๐๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ฐ๐ ๐๐๐๐๐๐
Agus menyampaikan dengan tegas:
โ๐พ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ข ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐. ๐พ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐ก๐๐ ๐๐ข๐๐ข๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐พ๐๐๐ก๐๐๐๐๐.โ
Keputusan untuk tetap single origin bukan sekadar strategi pasar, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap petani dan konsumen. Di era di mana banyak produsen mengejar volume, Akasa memilih menjaga integritas.
Idealisme ini justru menjadi kekuatan utama mereka. Konsumen globalโterutama dari Korea Selatan dan Indiaโmenghargai kejujuran merek yang menjaga keaslian rasa dan asal produk.
๐น๐๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐ฏ๐๐๐ ๐๐ ๐ฏ๐๐๐๐
Akasa Kopi mengelola rantai produksi secara penuh: dari pembibitan, pemetikan, pengolahan, hingga pemasaran di kafe milik sendiri. Kami diajak berkeliling melihat ruang sangrai, hingga coffee bar tempat pelanggan menikmati hasil akhir dari proses panjang itu. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kontrol kualitas tidak hanya soal alat modern, tapi tentang kedekatan antara produsen dan produk.
Agus menekankan bahwa setiap tahap harus dilakukan dengan โrasaโ.
โ๐พ๐๐๐๐ข ๐๐๐ก๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐ฆ๐, ๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐.โ
Itu bukan sekadar ungkapan puitisโmelainkan refleksi tentang ownership dan kebanggaan terhadap hasil kerja sendiri.
๐ซ๐๐๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐๐
Salah satu hal paling menarik dari Akasa adalah cara mereka mengelola media sosial. Dengan tim kecil berisi empat orangโpenulis, fotografer, videografer, dan copywriterโmereka memproduksi konten yang bercerita, bukan hanya menjual. Dengan bujet promosi sekitar lima juta rupiah per bulan, Akasa membuktikan bahwa promosi efektif tidak harus mahal, asalkan memiliki arah dan nilai yang jelas.
Mereka memasarkan kopi Kintamani sebagai kisah tentang tanah, ketinggian, dan kemurnian. Dalam dunia digital yang jenuh dengan promosi, kejujuran menjadi kekuatan baru.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฐ. ๐ฃ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฆ๐๐น๐ฎ๐๐ฒ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฎ๐บ๐ฎ๐๐ฎ
Dari Tabanan, Gianyar, hingga Bangli, saya menemukan pola yang sama: keberhasilan industri cokelat dan kopi tidak lahir dari kebetulan. Ia tumbuh dari tiga hal: pengetahuan, legalitas, dan kolaborasi.
Untuk Sulbar terutama Mamasa, yang memiliki potensi besar pada kopi arabika dan kakao, pembelajaran ini menjadi relevan. Jika petani hanya berhenti di budidaya, maka nilai ekonomi akan selalu kecil. Tapi bila mereka mampu mengelola pascapanen, membangun merek, dan terhubung dengan pasar digital, maka hasilnya bisa berlipat.
Saya membayangkan bagaimana kopi Mamasa bisa menjadi โsaudara kembarโ Kintamaniโmenonjolkan karakter rasa khas dataran tinggi Sulbar, dengan kisah petani lokal yang autentik. Begitu pula kakao Mamasa yang bisa naik kelas jika dikelola seperti model JungleGold: legal, transparan, dan bercerita.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฑ. ๐ฅ๐ฒ๐ธ๐ผ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ฒ๐ณ๐น๐ฒ๐ธ๐๐ถ ๐ฃ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ถ
Hasil kunjungan ini menyadarkan bahwa untuk naik kelas, UMKM Sulbar harus bertransformasi. Berikut refleksi yang saya simpulkan:
1. ๐ฟ๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐ก๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ก ๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐.
2. ๐๐๐๐๐ก๐โ๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ โ๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐ข๐ก๐๐๐.
3. ๐พ๐๐๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐ก๐๐๐ (๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐) ๐๐๐๐ก๐๐๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐ก๐๐๐ ๐ ๐ ๐ข๐๐๐๐.
4. ๐๐ก๐๐๐ฆ๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐ก๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐ข๐๐โ ๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐.
5. ๐ธ๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐๐ ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
Semua poin ini bukan teori, melainkan hasil nyata dari pelaku industri yang sudah membuktikan sendiri.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฒ. ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ฝ: ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฎ๐บ๐ฎ๐๐ฎ
Menutup dua hari penuh pembelajaran ini, saya menulis catatan digital ini:
โ๐๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ.โ
Di JungleGold saya belajar tentang etika dan sistem; di Suksma saya belajar inovasi dan jejaring; dan di Akasa saya belajar tentang idealisme dan cinta terhadap produk lokal.
Ketiganya saling melengkapiโdan jika diterapkan di Sulbar terkhusus Mamasa, saya yakin ekonomi desa dapat tumbuh bukan hanya karena bantuan, tetapi karena pengetahuan dan kerja sama.
Mungkin inilah hakikat dari belajar lintas daerah: bukan untuk meniru, melainkan memahami nilai di balik setiap proses, lalu menyesuaikannya dengan potensi dan karakter tanah sendiri. Dari perjalanan ini, saya pulang dengan satu keyakinan kuat: bahwa biji kakao dan kopi Mamasa dan Sulbar juga bisa bicara, asal kita mau mendengar, meneliti, dan terus belajar dari pengalaman.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat yang telah menjadi jembatan ilmu melalui program Forum Diskusi Produk Olahan Cokelat dan Kopi di Bali.
Dukungan dan fasilitasi BI Sulbar tidak hanya membuka jalan bagi kami untuk belajar langsung dari pelaku industri terbaik, tetapi juga menanamkan semangat baru: bahwa penguatan ekonomi daerah harus dimulai dari pengetahuan, jejaring, dan keberanian untuk berinovasi.ย (red/Agustinus)



Tidak ada komentar